Bulumanis, 7 Juli 2025 — Di tengah hiruk pikuk aktivitas jual-beli di Pasar Bulumanis, pemandangan yang tak kalah mencolok adalah hadirnya para pengamen dan pengemis yang tersebar di hampir setiap sudut pasar. Dari anak-anak hingga lansia, mereka mengulurkan tangan mengharap belas kasih, bahkan ada diantara mereka yang membawa anak kecil yang berusia belum menginjak 1 tahun demi menarik simpati para penjual dan pembeli di pasar.
Kondisi ekonomi yang terus memburuk akibat inflasi dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan membuat mereka terpaksa mencari nafkah di jalanan. Mereka datang membawa alat musik sederhana, menyanyi dengan suara khas masing-masing, berharap recehan dari para pengunjung pasar. Sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan masyarakat yang kurang mampu, yang tidak memiliki akses ke pekerjaan formal dan terpaksa mencari penghidupan di jalanan hingga di pasar-pasar. Meskipun tindakan ini dianggap melanggar aturan dan tidak ideal oleh sebagian masyarakat, bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan, mengemis dan mengamen sering kali menjadi pilihan terakhir untuk mencari rezeki demi bertahan hidup.
Namun, kehadiran mereka menimbulkan beragam tanggapan dari masyarakat. Ada yang merasa tergugah untuk berbagi, namun ada juga yang merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Sulastri, seorang pedagang sayur, mengaku terganggu: “Kadang kasihan, tapi seringnya mereka memaksa. Apalagi anak-anak kecil, mereka tidak pergi kalau belum diberi.”
Berbeda dengan itu, Dinda, seorang pelajar, menilai perlu melihat kondisi fisik si peminta: “Kalau memang sudah tua atau tidak mampu bekerja, ya wajarlah dikasih.” Meski menuai pro-kontra, keberadaan mereka menjadi potret nyata ketimpangan sosial yang terjadi di tengah aktivitas ekonomi masyarakat. Diperlukan peran aktif pemerintah dan pengelola pasar agar fenomena ini ditangani dengan bijak, tanpa mengabaikan hak masyarakat mencari nafkah dan hak publik atas kenyamanan.
