GENERISTIK.COM – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah terdampak karhutla belum menjamin kebakaran benar-benar berakhir. Di balik permukaan lahan yang tampak basah, bara api masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan berpotensi memicu kebakaran baru, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa titik api di permukaan memang dapat padam setelah hujan turun. Namun, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menegaskan kondisi itu belum menunjukkan kebakaran telah selesai sepenuhnya.
“Meskipun titik api yang ada di permukaan sudah padam, bara api di bawah permukaan masih ada,” kata Berton dalam konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan baru.

Api yang bersembunyi
Kebakaran lahan gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api tidak hanya membakar rumput, semak, atau pepohonan di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan bahan organik di bawah tanah yang telah kering.
Proses ini dikenal sebagai smouldering combustion atau pembakaran membara tanpa nyala api. Karena tidak selalu menghasilkan kobaran besar, kebakaran ini sulit terlihat dari udara maupun dari permukaan tanah.
Pakar kebencanaan Daryono menjelaskan bahwa permukaan tanah yang tampak aman atau hanya mengeluarkan sedikit asap belum tentu menandakan kebakaran telah padam. Bara di bawahnya masih dapat menyala pada suhu tinggi dan kembali memicu api permukaan bila kondisi lingkungan mendukung.
Mengapa air hujan tidak cukup
Gambut tersusun dari akumulasi bahan organik yang tebal dan mudah terbakar ketika kering. Ketika api masuk ke lapisan dalam, air hujan atau penyiraman di permukaan sering kali tidak mampu menjangkau seluruh titik panas.
Pakar dari IPB University menyebut ada tiga faktor utama yang membuat kebakaran gambut sulit padam, api berada di bawah permukaan sehingga sulit terdeteksi, lapisan gambut yang tebal memungkinkan pembakaran berlangsung lama, dan panas yang tersimpan terus memicu pembakaran bahan organik di sekitarnya.
Kondisi ini membuat pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan hujan atau penyemprotan dari atas. Petugas perlu melakukan pemantauan berkelanjutan, pembasahan area yang lebih luas, serta pengecekan terhadap munculnya asap atau vegetasi yang mengering.
Tekanan di lapangan
Ancaman bara gambut muncul saat pemerintah masih menangani sisa kebakaran di beberapa wilayah. BNPB mencatat luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah mencapai 351 hektare, sementara di Papua Selatan luas area terdampak menurun menjadi sekitar 253 hektare, atau turun 56 persen dari kondisi sebelumnya.
Di Papua Selatan, operasi modifikasi cuaca terus dijalankan untuk meningkatkan potensi hujan. BNPB melaporkan telah menyebarkan 20.000 kilogram natrium klorida melalui 20 sorti penerbangan, meski operasi tersebut menghadapi kendala berupa terbatasnya bibit awan.
Status tanggap darurat karhutla di Papua Selatan masih berlaku hingga 28 November 2026. Pemerintah juga memperluas operasi modifikasi cuaca ke Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Pemulihan yang belum selesai
Data pemantauan menunjukkan jumlah titik panas nasional sempat menurun, dengan 100 hotspot tingkat kepercayaan tinggi tercatat hingga 1 November 2026 dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah terbanyak. Namun, penurunan jumlah hotspot tidak serta-merta berarti risiko telah hilang, sebab bara bawah permukaan tidak selalu terbaca oleh deteksi satelit.
BNPB menekankan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut harus tetap berlanjut meski hujan telah turun. Bara yang tersimpan dapat kembali menyala ketika gambut mengering kembali, terutama pada musim kemarau berikutnya.
Kasus ini menegaskan satu persoalan mendasar yaitu pemadaman api yang terlihat bukanlah akhir dari bencana. Selama lapisan gambut masih kering dan menyimpan panas, hujan hanya menutupi gejala di permukaan, bukan memadamkan sumber kebakaran di bawahnya.